Percakapan

Mei 14th, 2011 by iimfaisal

Sebenarnya, kesempatan posting hari ini akan saya gunakan untuk membahas seorang Javier Zanetti. Ikon sepakbola dari Argentina yang baru saja menjalani partai professionalnya yang ke- 1000. Semua bahan telah saya siapkan dan tinggal merangkai kalimat per kalimat. Akan tetapi, berhubung blogger.com sedang dalam tahap perbaikan, rasanya tidak mungkin jika saya memaksakan diri untuk memposting tulisan dengan topik yang sama untuk blog yang berbeda. Setelah melalui perenungan singkat, akhirnya saya mencoba untuk kembali menulis sebuah curhatan tentang ibu.

Suasana sore kemarin sebenarnya berjalan seperti biasanya. Cuaca terik tetap setia menyapa, sedang hujan yang terkadang kedatangannya selalu dinanti juga tak kunjung tiba. Hingga akhirnya ada sedikit yang berbeda ketika sms dari adik pertama sampai ke ponsel saya. Isi pesan singkat ini langsung mengeryitkan kepala saya.

Kurang lebih begini isinya :” mas, kok gak pernah telpon mama? Gak kangen to? “. Tetoott…mungkin baru dalam bilangan sepakan saya tidak kontak dengan keluarga di Blora, tapi ternyata ibu saya sudah memendam kerinduan yang mendalam.

Tidak seperti biasanya memang adik saya sms seperti ini. Selama ini, jika adik saya ingin telpon, ya langsung telpon saja. Saya pun mulai berpikir yang macam-macam. Mungkin orang tua saya memang sedang kangen berat dengan anaknya. Atau mungkin ada beban berat yang sedang dipikul hingga perlu berbicara untuk sekadar bebagi dengan anak-anaknya. Tanpa berlama-lamapun saya langsung menjawab pesan singkat tersebut. “ntar wae yo..abis maghrib tak telpon balik (nanti saja, nanti setelah maghrib saya telpon balik)”.

Hingga akhirnya selepas menunaikan shalat maghrib saya menelpon ibu saya. Kami pun langsung berbicara dengan begitu akrabnya, seakan-akan sudah tak ketemu lama. Padahal bulan yang lalu ibu saya baru saja berkunjung ke ibukota dan tentunya bertemu dengan saya. Percakapan pun dimulai dan tahukah kamu apa yang ditanyakan oleh ibu saya? “gimana kabare im? Sehat kan? Kok gak pernah telpon mama? Kuliah e wis beres kan? Kapan lulus”? berondongan pertanyaan yang langsung membuat saya terdiam.

Maafkan saya, Wahai Ibu!

Mei 4th, 2011 by iimfaisal

She never quite leaves her children at home, even when she doesn’t take them along.  ~Margaret Culkin Banning

Hari ini bukan hari ibu, karena hari ibu tentunya jatuh tiap tanggal 22 Desember. Bukan pula hari kartini yang baru saja kita peringati 21 April yang lalu. Meskipun demikian, selalu ada alasan untuk selalu merindu dan mengingat Ibu. Sesosok yang pastinya telah menjadi salah satu atau bahkan yang terpenting dalam kehidupan kita.

Pagi ini terasa berbeda ketika saya memutuskan untuk melakukan rutinitas yang lain dari biasanya. Diawali dengan candaan dengan mifta, salah satu rekan kerja saya di perusahaan konsultan, kami berdua memutuskan untuk sejenak berolahraga. Bro, Jogging bro! serta-merta saya langsung mengiyakan tantangan itu.

Ya, hari ini saya resmi jogging! Sekadar merenggangkan otot dengan mengelilingi pinggiran jalanan ibukota, kenapa tidak?! begitu pikir saya. Jadilah ini pengalaman pertama berolahraga di jalanan ibukota, sejak terakhir saya melakukannya sekira 3 bulan yang lalu.

Saya mengenakan pakaian layaknya olahragawan. Kaos communival berkombinasi sempurna dengan celana olahraga yang kebetulan mempunyai warna yang identik : Putih. Sepatu Kets putih akhirnya menjadi pelengkap sempurnanya penampilan olahragawan a la saya. Perjalanan pun dimulai. Sekitar pukul 6 pagi saya dan teman saya meluncur meninggalkan komplek bumi sarinah untuk kemudian beranjak mengitari daerah kalibata.

30 menit lamanya saya mencoba untuk terus berlari konstan, menjaga ritme layaknya olahragawan sungguhan. Hingga akhirnya kayuhan kaki mulai berat tepat di komplek perumahan anggota DPR. Sial! Begitu saya berujar dalam hati. Rasanya muak untuk sekadar melihat uang rakyat yang dikonversi jadi rumah yang gak jelas juntrungannya. Seakan masih terheran, apalah arti sebuah Pemilu yang menghabiskan uang Trilyunan, jika pada akhirnya sekadar menghasilkan penyamun berdasi?

Ah sudahlah, berlama-lama di komplek ini rasanya tidak baik. Sejurus kemudian, saya cepat-cepat meningkatkan langkah kaki. Tak tahan untuk segera bergeser dari tempat ini. Hingga akhirnya saya menemui pemandangan yang membuat saya tiba-tiba rindu dengan sesosok Ibu.

Dalam beberapa kesempatan pulang, saya menemui sesosok ibu-ibu yang sedang disibukkan dengan berbagai aktifitas. Di suatu kesempatan, ada seorang ibu yang dengan penuh kasang menghantarkan buah hatinya untuk bersekolah di taman kanak-kanak. Di kesempatan yang lain, terdapat ibu yang mengadu canda dengan anaknya. Rasanya, tak ada aura kasih sayang yang mampu mengalahkan pemandangan kala itu. Seketika saya pun teringat dengan Ibu saya. Teringat terhadap janji-janji yang belum terlunasi. Janji sebagai seorang mahasiswa untuk lulus tepat tahun ini.

Tepat setengah tahun saya magang di Jakarta. Itu tandanya, skripsi pun sempat terlantar, terhanyut tak tau arahnya mau kemana. Meski pada awalnya saya berniat membatasi menyelesaikan magang ini pada bulan februari, tapi tetap saja. Saya ingkar dan tidak sesegera mungkin menyelesaikan kuliah saya.

Yap, saya pun teringat dengan celoteh dari Mildred Vermont, “Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs in my field, since the payment is pure love”.

Saya mungkin tak bisa memberi apa-apa, kecuali cinta dan lautan do’a yang akan terpancar dalam setiap kesempanku bermunajat padaNya…itulah selemah-lemah cintaku padamu..maka, maafkanlah anakmu..

[video] Antara Osama dan Obama

Mei 3rd, 2011 by iimfaisal

Bagi saya, blog adalah tentang catatan harian, selebihnya adalah varian dari curhatan dan fenomena-fenomena lain yang terlupakan.  Ketika memposting tulisan ini, seisi otak saya resmi dalam keadaan lelah. Seharian berkutat dengan kemacetan ibukota tentu pengalaman yang menyebalkan bukan? oleh karena itu, postingan kali ini mungkin sekadar hiburan atas kepenatan yang mulai melanda. mengutip kalimat sakti joker di film Dark Knight : Why so serious?

***

Terpujilah Evan Williams yang menciptakan twitter. situs ini menjadi medium terpraktis bagi saya untuk menjaring informasi. (Pada kondisi tertentu, saya memang lebih senang menyebut situs ini sebagai jejaring informasi ketimbang jejaring sosial). hari ini menjadi contoh terbaik. Dua jam saya berkutat di stasiun Jatinegara hanya untuk mengantre mendapatkan tiket, meski pada akhirnya saya tak dapat meraih tiket yang saya inginkan, twitter mampu mengalihkan kejenuhan yang setiap saat mulai mengintai. Ketika perhatian saya tertuju sisi trending topic, di situ saya melihat kata bin laden menjadi satu dari beberapa kata kunci yang paling banyak di ketik oleh user.  Hari ini pun saya targetkan menggali informasi sebanyak mungkin tentang Osama.

Mondar-mandir Patria Park - BEJ, tepat sesaat sebelum maghrib saya sudah sampai di kantor. Setelah menyelesaikan laporan, saya pun memenuhi panggilan janji. BBC dan youtube jadi persinggahan utama. hingga akhirnya saya menemukan sebuah video seperti ini :

Antara Osama dan Obama

Dalam bahasa lain saya menafsirkan video ini dalam kalimat, “bung, ternyata anda tidak ada beda dengan Osama!, bahkan anda lebih kejam karena menggunakan negara sebagai alat terorisme yang nyata!”.Bukankah terorisme paling berbahaya adalah terorisme yang dilakukan negara?! Palestina, Afghanistan, dan Libya. siapa lagi Mr. Obama?

Dialog tentang cita-cita

Mei 2nd, 2011 by iimfaisal

my-future

Benarkah masa kanak-kanak (balita) adalah masa yang paling sulit diingat? Bila pertanyaan ini ditujukan ke saya, sejurus kemudian saya akan menjawab : Ya! Setidaknya itulah yang saya yakini hingga kini. Praktis tidak ada pengalaman “mengesankan” yang bisa saya rekam dari masa kanak-kanak. Paling banter, saya hanya bisa merekam pengalaman kencing dan berak di celana sewaktu menginjak bangku taman kanak-kanak. Selebihnya, hanya sedikit yang bisa dijelaskan. Yang ada bayangan kabur dan semuanya susah untuk sekadar diingat. Namun, sekali lagi dari yang sedikit itu tetap menyisakan satu pengalaman yang akan selalu saya kenang. Tidak lain ketika guru TK saya bertanya kepada kami, apa cita-cita kalian wahai anakku?

Hampir tiap hari ketika waktu pulang sekolah tiba, ibu guru mengulang pertanyaan yang sama. apa cita-citamu? , apa cita-citamu? Seakan-akan tak ada pertanyaan lain yang lebih penting. Kami segerombolan anak kecil yang berjumlah tak lebih dari 30 orang pun sahut-menyahut memberikan jawaban sekenanya.

Dapat ditebak, mayoritas diantara kami pasti menjawab demikian : dokter buuu…!!, sebagian yang lain menjawab, presiden…!!!, sedangkan sekelompok anak yang bertubuh sangar akan menjawab Tentara..Polisi..!! dua jawaban yang pertama mungkin masuk akal, susan dengan lagu (mungkin terpopuler saat itu) cita-citaku meracuni banyak bocah zaman itu. Sedangkan dua terakhir saya tak tahu dari mana asalnya inspirasi itu ada. Terlepas dari itu semua, momen tersebut sangat menyenangkan bukan? Rutinitas yang awalnya terkesan superfisial, hingga akhirnya 15 tahun kemudian saya menyadari, berimajinasi tentang cita-cita bukan perkara biasa.

***

Paulo Coelho, dialah yang menginspirasi saya tentang arti penting dari sebuah cita-cita. Suatu ketika di novelnya yang berjudul alchemist, dia berujar : “yang membuat kehidupan ini menarik adalah ketika kita mempunyai impian (cita-cita)”. Tarian pena Coelho kali ini menggetarkan saya. Tulisannya menggocek seisi sistem limbik laksana brasileiro yang lihai mengelabui lawan-lawannya.

Impian! dia jelas berbeda dengan mimpi. impianlah yang mendorong setiap orang mau memberikan energi terbaik untuk meraih objektif kehidupan. Dialah cahaya yang akan menuntun kemauan terbaik selalu menyala. Imajinasi yang selalu terjaga, hingga enstein pun berani mengatakan “imajinasi itu lebih penting dari ilmu pasti”. Maka jelaslah, kali ini kita berbicara tentang permasalahan besar. Tentang masa depan, tentang harapan, dan tentunya tentang pilihan yang akan kita jalani di sisa hidup.

***

Saya baru benar-benar memiliki cita-cita ketika menginjak bangku SMP. Kegilaan saya yang teramat suka membaca surat kabar membawa saya pada impian menjadi seorang jurnalis. Jurnalis bagi saya adalah profesi yang hebat. Bagaimana tidak? bertemu dan mewawancari langsung orang besar bisa dilakukan seorang jurnalis. Berkelana ke sana ke mari bisa dilakukan seorang jurnalis. bercerita, mencerahkan orang lain bisa dilakukan seorang jurnalis. itu jelas pekerjaan yang menyenangkan, bukan? Begitu pikir saya kala itu.

Hingga saat ini, saya masih menyimpan asa sebagai seorang jurnalis. sekalipun nantinya saya tak mampu meraih impian itu, saya akan tetap berusaha menjadi jurnalis yang baik, setidaknya bagi diri saya sendiri. Karena hanya dengan cara ini saya memaknai arti dari pendidikan yang saya eyam hingga sekarang. Pendidikan yang membebaskan, bukan hanya sekadar membebaskan fisik semata. lebih dari itu terhadap pelbagai pikiran yang memenjarakan. Terbebas dari keterbelakangan, terbebas dari segala hal yang keterkungkungan. Pertanyaannya, bagaimana dengan anda?

Catatan Pembuka

Mei 1st, 2011 by iimfaisal

Selamat datang di dunia jancuk a la saya. Ini adalah blog baru, blog generasi ketiga dari 2 blog yang sebelumnya pernah saya bikin. Sudah barang tentu, karena blog ini masih “baru”, maka tulisan yang anda baca sekarang adalah tulisan perdana saya. Sebelum muncul postingan-postingan berikutnya, bolehlah kiranya saya ucapkan selamat datang, ahlan wa sahlan, sugeng rawuh

***

Saya akan memulai dengan frasa sebab-akibat. Saya adalah tipikal orang yang meyakini, tidak ada di dunia ini yang datang secara tiba-tiba. Semua pasti ada sebabnya. Semua ada perencanaannya. Ambil contoh dunia dan seisinya. Alam semesta ini tentu tidak datang begitu saja, bukan? Tentu ada sebab yang mengiringi setiap penciptaan. Perkara sebab itu apa, jangan tanyakan pada saya. Jika anda mengimani tidak ada tafsir tunggal dalam setiap teks, maka tugas dari masing-masing kita untuk mencari makna tersebut.

Kawan, lantas apa arti sebuah blog baru bagi saya? Apa yang menjadi sebab, hingga saya perlu membikin blog baru? Well, Pada mulanya saya sering bertanya pada diri sendiri, apa jadinya jika blog baru yang saya bikin bernasib sama dengan 2 blog sebelumnya? (baca : mati suri = tak pernah diupdate). Bukankah nge-blog di domain manapun tak ada beda? Yang penting kan kemauan untuk menulis? Jawabnya sederhana, saya ingin mencari suasana baru. Energi inilah yang ingin saya konversi dalam postingan yang lebih terarah. Layaknya hukum kekekalan energi : energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan. Demikian pula dengan hasrat menulis. Hasrat ini selalu ada, tinggal bagaimana saya mengelolanya. Dari keinginan itulah, maka lahir blog ini : www.jancuk.blogdetik.

***

Apakah ada yang aneh dengan alamat blog saya? Semoga tidak. Jika kawan yang membaca tulisan ini berasal dari Jawa Timur, kata “jancuk” tentu bukanlah sesuatu yang asing. Dalam beberapa kesempatan, saya sempat bertanya kepada paman google, apa arti kata (yang saya anggap sangat fenomenal) ini? Kawan, kata jancuk sering digunakan oleh penduduk sekitar Surabaya. Namun, pada akhirnya penggunaan ini melebar hingga berbagai penjuru di Jawa Timur. Penggunaan kata ini pun agak unik. Kata jancuk dapat digunakan dalam dua kondisi yang saling bertolak belakang. Yang pertama, sebagai ungkapan kemarahan yang disampaikan kepada orang lain. (jancuk, dancok) Kedua, sebagai sapaan kepada sahabat (-cuk). Bila anda ingin memahami lebih lanjut tentang kata “jancuk”, segeralah membikin akun twitter dan memfollow akun Sudjiwo Tejo (@sudjiwotejo), maka akan anda temui apa yang dimaksud dengan jancuk itu sendiri.

Pada akhirnya, dengan kata “jancuk” saya ingin mengatakan bahwa tidak semua yang “jancukers” itu kasar. Tidak semua yang berkaitan dengan jancuk itu tak bisa romantis. Tidak semua yang jancuk itu tak bisa menginspirasi. Melalui tulisan-tulisan di blog ini saya ingin berbicara, meski dalam cara dan tempat yang berbeda. Pertanyaannya, Maukah anda?